Ride-Hailing Drivers in Civilian Policing: Legal Boundaries and A 3K Framework For Public Security in Indonesia
Abstract
Abstrak
Partisipasi pengemudi ojek online dalam civilian policing menimbulkan persoalan hukum mengenai bagaimana mobilitas dan kapasitas komunikasi berbasis jaringan dapat mendukung keamanan publik tanpa memperluas kewenangan koersif kepolisian kepada aktor sipil. Penelitian ini menganalisis batas hukum partisipasi tersebut dan mengembangkan kerangka normatif untuk mengintegrasikan informasi yang dihasilkan pengemudi ke dalam proses kepolisian yang akuntabel. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan, regulasi, dan konseptual, dengan memanfaatkan bahan hukum primer yang mengatur kewenangan kepolisian, pemolisian masyarakat, pelaporan digital, dan pelindungan data pribadi, serta literatur akademik yang relevan. Hasil analisis menempatkan pengemudi ojek online sebagai mitra sipil nonkoersif yang kontribusinya berasal dari kapasitas informasi yang terdistribusi, bukan dari kompetensi kepolisian atau kewenangan hukum. Peran yang dapat dijalankan terbatas pada pengamatan, dokumentasi yang sah, komunikasi, dan pelaporan, sedangkan penilaian, verifikasi, dan penegakan hukum tetap menjadi tanggung jawab Polri. Penelitian ini mengembangkan Kerangka 3K—Komunikasi, Koordinasi, dan Konfirmasi—sebagai mekanisme konseptual untuk mengatur peralihan dari informasi sipil menuju respons kepolisian yang berwenang. Komunikasi menstrukturkan penyampaian observasi awal, Koordinasi mengatur pembagian peran institusional antara pengemudi, perusahaan platform, dan Polri, sedangkan Konfirmasi berfungsi sebagai gerbang kewenangan melalui penilaian oleh personel kepolisian yang berwenang sebelum dilakukan respons koersif. Kerangka ini memberikan kontribusi pada kajian civilian policing dan community policing dengan memperjelas bagaimana partisipasi berbasis platform dapat mendukung fungsi kepolisian tanpa mengubah kapasitas informasi sipil menjadi kewenangan kepolisian yang didelegasikan. Implementasinya memerlukan pembagian tanggung jawab institusional yang jelas, pelindungan data pribadi, dan pengaturan pertukaran informasi antara platform dan kepolisian.
Kata Kunci: Kerangka 3K; Pelaporan Digital; Pemolisian Masyarakat; Pemolisian Sipil; Pengemudi Ojek Online.
Abstract
The participation of ride-hailing drivers in civilian policing raises a legal problem concerning how their mobility and networked communication capacity can support public security without extending coercive police authority to civilian actors. This study examines the legal boundaries of such participation and develops a normative framework for integrating driver-generated information into accountable police processes. It employs normative legal research through statutory, regulatory, and conceptual approaches, drawing on primary legal materials governing police authority, community policing, digital reporting, and personal-data protection, together with relevant scholarly literature. The analysis identifies ride-hailing drivers as non-coercive civilian partners whose contribution derives from distributed informational capacity rather than policing competence or legal authority. Their permissible role is limited to observing, lawfully documenting, communicating, and reporting incidents, while assessment, verification, and enforcement remain the responsibility of Polri. The study develops the 3K Framework—Communication, Coordination, and Confirmation—as a conceptual mechanism for governing the transition from civilian information to authoritative police response. Communication structures the transmission of initial observations, Coordination allocates institutional roles among drivers, platform operators, and Polri, while Confirmation operates as an authority gate through which information is assessed by authorized police personnel before any coercive response. The framework contributes to civilian- and community-policing scholarship by clarifying how platform-mediated participation can support policing without converting civilian informational capacity into delegated police authority. Its implementation requires clear institutional accountability, data-protection safeguards, and regulated police–platform information sharing.
Keywords: 3K Framework; Civilian Policing; Community Policing; Digital Reporting; Ride-Hailing Drivers
References
BIBLIOGRAPHY
Ahmad, J., Nonci, N., Zainuddin, A. M., Astuti, Y., & Gafur, A. (2026). Digitalization of police services as public service innovation: A case study of the Parepare Police. Journal of Local Government Issues, 9(1), 52–69. https://doi.org/10.22219/logos.v9i1.43348
Almunawar, M. N., Anshari, M., & Lim, S. A. (2020). Customer acceptance of ride-hailing in Indonesia. Journal of Science and Technology Policy Management, 12(3), 443–462. https://doi.org/10.1108/JSTPM-09-2019-0082
Asmara, A., Mubarok, J., Sianturi, K. D., Meliala, A. E. S., & Siregar, R. B. (2026). Digital policing models transform law enforcement practices, impacting public trust and legitimacy. Jurnal Ilmu Kepolisian, 20(1), 17–26. https://doi.org/10.35879/jik.v20i1.701
Bungsadewo, R. D., Chairunnisa, N. I., & Farhana, S. A. (2021). Polemik penghidupan kembali pengamanan swakarsa: Dilema antara community policing dan vigilantisme. Jurnal Politica Dinamika Masalah Politik Dalam Negeri dan Hubungan Internasional, 12(1), 23–42. https://doi.org/10.22212/jp.v12i1.2148
Carlina, N., Alamsyah, A., & Marpaung, Z. S. (2022). Dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar terhadap komunitas ojek online di Palembang. Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 13(1), 1–14. https://doi.org/10.23960/administratio.v13i1.260
Damanik, J., & Rini, N. S. (2021). Analisis terhadap penyelidikan Komnas HAM tentang peristiwa kematian enam orang Laskar FPI. Jurnal HAM, 12(1), 165–178. https://doi.org/10.30641/ham.2021.12.165-178
de Fretes, Y. L., Bayunarendro, M. K., & Cornelia, H. (2024). Evidence-based policing as a foundational policing model for the INP. Jurnal Ilmu Kepolisian, 18(2), 177–190. https://doi.org/10.35879/jik.v18i2.459
Firdaus, M., Dwilaksana, C., & Onielda, M. D. A. (2023). Shifting Polri’s law enforcement strategy: Restorative justice for public trust. Jurnal Media Hukum, 30(2), 153–170. https://doi.org/10.18196/jmh.v30i2.18628
Fitrianto, A., Suhariadi, F., & Minarno, N. B. (2025). Reforming Polri’s community policing: A procedural justice and human resource approach to building police legitimacy. Edelweiss Applied Science and Technology, 9(5), 1734–1742. https://doi.org/10.55214/25768484.v9i5.7271
Halilintarsyah, O. (2021). Ojek online, pekerja atau mitra? Jurnal Persaingan Usaha, 2(2), 64–74. https://doi.org/10.55869/kppu.v2i.24
Indarti, E. (2019). Community policing sebagai democratic policing: Konteks di Indonesia. Jurnal Ilmu Kepolisian, 13(2), 148–158. https://doi.org/10.35879/jik.v13i2.164
Indarti, E. (2022). Penegakan hukum, perpolisian masyarakat dan pewujudan keamanan: Suatu kajian filsafat hukum. Masalah-Masalah Hukum, 51(2), 141–152. https://doi.org/10.14710/mmh.51.2.2022.141-152
Irawan, M. Z., Belgiawan, P. F., Tarigan, A. K. M., & Wijanarko, F. (2020). To compete or not compete: Exploring the relationships between motorcycle-based ride-sourcing, motorcycle taxis, and public transport in the Jakarta metropolitan area. Transportation, 47(5), 2367–2389. https://doi.org/10.1007/s11116-019-10019-5
Ismail, M. (2023). Digital policing: Studi pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan tugas intelijen kepolisian untuk mencegah kejahatan siber (cybercrime). Jurnal Ilmu Kepolisian, 17(3), 15. https://doi.org/10.35879/jik.v17i3.428
Koni, Y. K. (2019). Penerapan Peraturan Kapolri Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pemolisian Masyarakat dalam penegakan hukum di Provinsi Gorontalo. Kertha Patrika, 41(1), 52–66. https://doi.org/10.24843/KP.2019.v41.i01.p05
Kuswardani, K., Prakosa, A. L., Kurniangsih, M., & Inayah, I. (2021). Pemolisian masyarakat dan pengamanan swakarsa sebagai kebijakan kriminal. Jurnal Surya Kencana Satu: Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan, 12(1), 47–58. https://doi.org/10.32493/jdmhkdmhk.v12i1.10206
Nadir, S., & Sunardi, S. (2024). Everyday politics of online ojek drivers: Taking cover and fighting applicators from the community basecamp. Sosiohumaniora, 26(1), 70–78. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v26i1.47543
Rachman, F., El Muhtaj, M., Perangin-angin, R. B. B., & Prayetno, P. (2024). Human rights education within ‘Presisi’ curriculum: A study of State Police School in North Sumatra. Jurnal HAM, 15(2), 111–128. https://doi.org/10.30641/ham.2024.15.111-128
Ricardianto, P., Ikhsan, R. B., Suryobuwono, A. A., Setiawan, E. B., Raharjo, E. P., Rahandi, R., & Cahyadi, D. (2024). What makes consumers attitudinal loyalty on ride-hailing services? An investigation Indonesian consumers’ perceived safety in using ride-hailing apps. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, 10(2), 100306. https://doi.org/10.1016/j.joitmc.2024.100306
Samudra, A. H., Basu, S., & Sáenz Pérez, C. (2026). Digital challenge, analogue mind-set: Assessing Indonesia’s electronic criminal evidence framework. Journal of Indonesian Legal Studies, 11(1), 257–298. https://doi.org/10.15294/jils.v11i1.35378
Sandiya, I., Ghafur, A. H. S., & Yuliatiningtyas, S. (2025). Transforming democratic policing in the digital era for law enforcement accountability in Indonesia. Journal of Law and Legal Reform, 6(4), 1723–1760. https://doi.org/10.15294/jllr.v6i4.30554
Santoso, B., Hitaningtyas, R. D. P., & Nugroho, S. S. P. (2023). Karakteristik hubungan hukum antara pengemudi ojek online dan perusahaan aplikasi. Masalah-Masalah Hukum, 52(2), 174–186. https://doi.org/10.14710/mmh.52.2.2023.174-186
Saputra, A. (2023). Penguatan peran pemolisian masyarakat dalam mewujudkan stabilitas Kamtibmas bagi pembangunan nasional tahun 2022. Jurnal Litbang Polri, 26(1), 1–10. https://doi.org/10.46976/litbangpolri.v26i1.210
Setiadi, S. (2023). Optimization of humanist law enforcement in order to realize the paradigm of civilian police. Unnes Law Journal, 9(1), 66–128. https://doi.org/10.15294/ulj.v9i1.66846
Setiawan, S. (2020). Implementasi POLMAS dalam pencegahan tawuran: Studi kasus POLRES Metro Bekasi. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 7(1), 1–19. https://doi.org/10.22146/jps.v7i1.57672
Shahrullah, R. S., Park, J., & Irwansyah. (2024). Examining personal data protection law of Indonesia and South Korea: The privacy rights fulfilment. Hasanuddin Law Review, 10(1), 1–20. https://doi.org/10.20956/halrev.v10i1.5016
Siregar, S. N., Raffiudin, R., & Noor, F. (2022). Democratic regression in Indonesia: Police and low-capacity democracy in Jokowi’s administration (2014–2020). Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 26(2), 197–212. https://doi.org/10.22146/jsp.72129
Suryana, N., Habibullah, A. Z., & Alifya, T. W. (2025). Hak asasi manusia di balik lencana: Potret 20 tahun lebih reformasi kepolisian. Aliansi: Jurnal Politik, Keamanan dan Hubungan Internasional, 4(2), 114–121.
Syah Alam, S., Hardjosoekarto, S., Runturambi, A. J. S., & Setyabudi, C. M. (2026). Isomorphism and the role of community policing in Indonesia and New Zealand. Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, 14(1), 140–158. https://doi.org/10.29303/ius.v14i1.1862
Tobing, H. (2024). The gig economy dilemma: Exploring alternatives to create decent work for online motorcycle taxi drivers in Indonesia. Jurnal Ketenagakerjaan, 19(2), 168–183. https://doi.org/10.47198/jnaker.v19i2.340


































